26 January 2021

Desain dan Rangka Atap Penting Untuk Kurangi Kebocoran, Simak di Sini!

Melihat perkembangan bentuk atap saat ini, desainnya terbilang sangat beragam. 

Atap seperti apa yang minim risiko bocor? Dalam membangun sebuah rumah, salah satu bagian yang tak kalah penting untuk diperhatikan adalah atap rumah. Lokasinya yang berada di bagian atas bangunan dan terlihat dari luar membuat banyak orang dan arsitek ingin mengeksplorasi bentuknya. Tetapi, tahukah Anda, semakin rumit bentuk atap, semakin semakin besar pula risiko bocornya?     


Apa saja yang harus diperhatikan dari setiap elemen atap agar bisa terhindar dari bocor? 

Bentuk Atap 

Sebelum membangun rumah atau membeli rumah, ada baiknya Anda mengetahui aneka model atap. Ini diperlukan guna mengetahui berbagai kelemahan dan kelebihan suatu bentuk atap, hingga Anda tak harus selalu berjibaku dengan yang namanya bocor. Indonesia yang terletak di daerah tropis dengan curah hujan yang tinggi harus disikapi dengan bentuk atap yang tepat pula. Iklim adalah komponen penting yang harus diperhatikan ketika akan mendesain sebuah rumah dan memilih bentuk atapnya. Jangan hanya mindahkan model rumah dari negara 4 musim karena berisiko menciptakan rumah yang tidak nyaman dihuni. Seperti apa desain atap yang baik?  Pertama, desain atap harus minim sambungan. Semakin sedikit sambungan, semakin kecil juga risiko bocor.   Kedua, jangan lupa dengan kemiringan atap, jangan terlalu landai.   Ketiga, perhatikan lokasi tempat tinggal Anda. Antara rumah yang tinggal di daerah pantai dan di daerah dingin dengan curah hujan tinggi, tentunya berbeda. Desain atap yang terbilang paling minim bocor adalah atap pelana.   

 

Jenis Penutup Atap 

Ada standar yang berlaku di masyarakat berkaitan dengan penutup atap dan kebocoran.

Pertama, semakin sedikit sambungan antar-penutup atap, semakin kecil risiko bocornya.  Misalnya genting berbentuk lembaran seperti metal, seng, asbes, dan polikarbonat.  Kedua, atap yang penutupnya minim celah, misalnya, genting beton flat, genting keramik flat, genting metal lembaran, seng lembaran, asbes, dan polikarbonat.   

Ketiga, semakin tebal penutup atap, bocor pun semakin sukar menembus. Misalnya, genting beton dan genting keramik. Setiap penutup atap memiliki kekuatan yang kurang lebih sama. Yang membuat satu penutup atap lebih rentan terhadap bocor, adalah bentuknya. Penutup atap dengan bentuk gelombang yang tinggi, lebih berisiko dimasuki air dibandingkan yang tidak bergelombang.   


Rangka Atap

Desain dan pilihan penutup yang baik tidak akan berfungsi optimal tanpa rangka yang kuat. Setiap penutup atap akan memengaruhi rangka baik dari sisi desain maupun kekuatan rangka yang diperlukan. Kekuatan itu menyangkut beban penutup atap, beban rangka, beban hidup (manusia), beban angin, dan beban air hujan. Rangka yang tak kuat menahan beban akan membuat lendutan pada permukaan penutup atap dan akan mengakibatkan bocor. Selain kekuatan, khusus untuk bagian reng dan usuk, bentuk dan ukurannya harus lurus. Jika kedua elemen rangka ini tidak lurus dan bengkok, maka akan memengaruhi posisi penutup atap. Penutup atap yang tidak presisi akan menyebabkan air masuk melalui celah-celahnya dan menyebabkan bocor. Masalah yang paling besar mengenai bentuk dan presisi itu biasanya jika menggunakan rangka kayu. Untuk itu sebaiknya memilih rangka baja ringan dibanding kayu. Keunggulannya bahan ini lebih ringan, tidak muai, tahan karat, tidak mudah lapuk, anti rayap dan kuat sampai puluhan tahun. Materialnya yang stabil akan membuat penutup atap aman, dan kebocoran pun minimal.